Di Fakultas Teknik UNIMA, Herwyn Paparkan Pengawasan Pemilu Berkelanjutan di Era Big Data
|
Tondano, Badan Pengawas Pemilihan Umum Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) – Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia (Bawaslu RI), Herwyn J.H. Malonda, menjadi narasumber kuliah perdana Fakultas Teknik Universitas Negeri Manado (UNIMA) dengan tema “Pengawasan Pemilu Berkelanjutan di Era Big Data: Green Election, Teknologi Informasi, dan Peran Ilmu Teknik”, Selasa (10 Februari 2026), bertempat di Aula Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik UNIMA.
Dalam pemaparannya, Herwyn menegaskan bahwa kuliah perdana bukan sekadar penanda dimulainya perkuliahan, melainkan ruang refleksi intelektual untuk menanamkan orientasi berpikir, nilai keilmuan, dan tanggung jawab moral mahasiswa.
“Pemilu hari ini bukan lagi sekadar urusan politik dan hukum. Ia adalah peristiwa sistemik berskala nasional yang melibatkan teknologi, big data, logistik kompleks, bahkan berdampak pada lingkungan,” ujarnya.
Pemilu sebagai Sistem Besar dan Digital
Herwyn menjelaskan bahwa pemilu modern merupakan sistem besar yang melibatkan ratusan juta pemilih, ratusan ribu tempat pemungutan suara, serta miliaran dokumen dan logistik. Setiap tahapan menghasilkan data dalam jumlah masif—data pemilih, data logistik, data kampanye, hingga jejak digital di media sosial.
Dalam konteks era Big Data, pengawasan pemilu tidak lagi dapat dilakukan secara manual dan reaktif. Pengawasan kini bergerak ke arah berbasis data, sistem, dan risiko.
“Pengawasan modern menuntut kemampuan membaca pola, mendeteksi anomali, memprediksi risiko, dan mengambil keputusan berbasis data yang terukur,” jelasnya.
Karena itu, menurut Herwyn, Bawaslu tidak lagi hanya berperan sebagai penegak aturan, tetapi juga sebagai institusi pengelola dan analis data pengawasan. Di sinilah peran ilmu teknik—terutama teknik informatika, sistem informasi, elektro, industri, dan lingkungan—menjadi sangat relevan.
Green Election dan Tantangan Lingkungan
Selain aspek digital, Herwyn juga menyoroti dimensi ekologis pemilu yang selama ini kurang mendapat perhatian. Pemilu menghasilkan konsumsi kertas dalam jumlah besar, penggunaan material kampanye, distribusi logistik berskala luas, serta timbulan limbah pascapemilu.
“Demokrasi yang berkualitas adalah demokrasi yang tidak merusak masa depan lingkungan,” tegasnya.
Konsep Green Election atau pemilu ramah lingkungan, lanjutnya, mendorong efisiensi penggunaan sumber daya, pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, serta pemanfaatan teknologi untuk mengurangi dampak ekologis.
Teknologi, Keamanan Siber, dan Forensik Digital
Digitalisasi pemilu merupakan keniscayaan. Namun, penggunaan teknologi juga membawa risiko seperti manipulasi data, serangan siber, pelanggaran privasi, dan disinformasi.
Karena itu, pengawasan pemilu modern membutuhkan arsitektur sistem yang kuat, keamanan siber yang andal, serta kemampuan forensik digital untuk menelusuri dan membuktikan jejak elektronik.
“Mahasiswa teknik bukan hanya membangun sistem, tetapi menjaga integritas sistem demokrasi,” kata Herwyn.
Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan data science, analitik, dan pemodelan prediktif dalam pengawasan berbasis risiko. Dengan pendekatan ini, pengawasan dapat memetakan daerah rawan, mendeteksi ketidakwajaran logistik, serta mengoptimalkan sumber daya secara lebih efektif dan adil.
Fakultas Teknik sebagai Laboratorium Demokrasi
Koordinator Divisi SDM, Organisasi dan Diklat Bawaslu RI itu menilai Fakultas Teknik UNIMA memiliki posisi strategis dalam penguatan demokrasi berbasis teknologi. Kampus dapat menjadi laboratorium inovasi pemilu hijau, pusat riset pengawasan berbasis data, serta mitra pengembangan sistem informasi pengawasan.
“Mahasiswa teknik tidak hanya membangun jembatan dan gedung, tetapi juga membangun sistem kepercayaan publik,” ujarnya.
Menutup pemaparannya, Herwyn menegaskan bahwa demokrasi masa depan membutuhkan teknologi yang cerdas, data yang bertanggung jawab, serta kesadaran ekologis.
“Ilmu teknik memiliki peran mulia dalam memastikan demokrasi berjalan jujur, adil, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Kuliah perdana ini menjadi bagian dari rangkaian pembukaan Semester Genap Fakultas Teknik UNIMA yang mengusung semangat “Mari Torang Samua” sebagai ajakan membangun komitmen bersama dalam menjalani proses akademik secara optimal.
Turut hadir dan memberikan dukungan dalam kegiatan tersebut Dekan Fakultas Teknik UNIMA, Dr. Hendro M. Sumual, S.T., M.Eng., M.Pd. Kegiatan diikuti oleh mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan civitas akademika Fakultas Teknik UNIMA. Hadir juga pada kesempatan itu, Anggota Bawaslu Sulut, Koordinator Divisi SDM, Organisasi dan Diklat Erwin F. Sumampouw serta Koordinator Divisi Pencegahan, Parmas dan Humas Steffen S. Linu.
Penulis dan Foto: Humas Bawaslu Sulut
Editor: Humas Bawaslu Sulut